9 Kebiasaan Melindungi Inbox dari Spam, Phishing, dan Kebocoran Data
Alamat email pribadimu terhubung ke banyak hal: akun bank, toko online, media sosial, sampai dokumen kerja. Semakin sering alamat itu disebar, semakin besar peluangnya masuk ke daftar spam atau ikut bocor saat sebuah layanan diretas. Berikut sembilan kebiasaan yang membantu menjaganya.
1. Pisahkan alamat sesuai tingkat kepercayaan
Pakai email pribadi hanya untuk layanan yang benar-benar kamu percaya dan butuhkan jangka panjang. Untuk pendaftaran sekali pakai, unduhan, atau promo, gunakan email sementara. Kalau layanan itu bocor, yang ikut tersebar hanya alamat yang sudah tidak terpakai.
2. Gunakan alias untuk melacak sumber spam
Untuk layanan yang dipakai jangka panjang, alias dengan tanda plus bisa membantu. Misalnya [email protected]. Google menjelaskan bahwa variasi seperti ini tetap masuk ke inbox utamamu. Kalau suatu hari spam berdatangan ke alias itu, kamu tahu dari mana alamatmu bocor.
3. Kenali tanda-tanda phishing
Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) merangkum pola umum email penipuan. Waspadai email yang:
- mendesak kamu bertindak segera, misalnya "akunmu akan diblokir dalam 24 jam";
- meminta data pribadi, password, atau kode OTP;
- mengandung tautan atau lampiran yang tidak kamu harapkan;
- menawarkan hadiah atau pengembalian dana yang terlalu menggiurkan.
Kalau ragu, jangan klik tautannya. Buka situs resminya dengan mengetik alamatnya sendiri, atau hubungi layanan pelanggan lewat kontak resmi.
4. Jangan pernah membagikan kode OTP
Kode OTP dibuat untuk dipakai oleh kamu sendiri. Pihak resmi tidak akan meminta kode itu lewat telepon, chat, atau email. Siapa pun yang meminta OTP-mu patut dicurigai.
5. Cek apakah emailmu pernah bocor
Layanan Have I Been Pwned memungkinkan kamu memeriksa apakah alamat email pernah muncul dalam kebocoran data yang diketahui publik. Kalau ternyata pernah, segera ganti password akun terkait, terutama kalau password yang sama dipakai di tempat lain.
6. Satu akun, satu password
Memakai password yang sama di banyak situs berarti satu kebocoran membuka semuanya. Gunakan password berbeda untuk tiap akun. Pengelola password (password manager) membuat kebiasaan ini jauh lebih mudah.
7. Aktifkan autentikasi dua faktor
Lembaga keamanan siber AS, CISA, menganjurkan autentikasi multifaktor (MFA) di akun penting, terutama email. Dengan MFA, password yang bocor saja tidak cukup untuk masuk. Untuk akun yang sangat penting, utamakan aplikasi autentikator atau kunci keamanan dibanding kode lewat email. Pedoman NIST SP 800-63B juga tidak menganggap email sebagai jalur out-of-band yang cukup kuat.
8. Berhenti berlangganan dengan aman
Untuk buletin dari layanan resmi yang memang pernah kamu daftari, tombol unsubscribe umumnya aman dipakai. Untuk email spam yang tidak jelas asalnya, jangan klik apa pun di dalamnya, termasuk tombol berhenti berlangganan. Tandai sebagai spam saja.
9. Pahami hak atas data pribadimu
Di Indonesia, pelindungan data pribadi diatur dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Undang-undang ini mengatur kewajiban pihak yang mengelola data pribadi dan hak pemilik data. Mengetahui aturan ini membantumu lebih kritis saat sebuah layanan meminta data yang berlebihan.
Ringkasan
| Situasi | Gunakan |
|---|---|
| Bank, kerja, akun utama | Email pribadi + autentikasi dua faktor |
| Langganan jangka panjang | Alias dengan tanda + |
| Pendaftaran sekali pakai, unduhan, promo | Email sementara |
Butuh alamat sekali pakai sekarang? Buat email sementara gratis.
Sumber
- Google Workspace Learning Center: Tips to optimize your Gmail inbox (alamat dengan tanda +)
- FTC Consumer Advice: How To Recognize and Avoid Phishing Scams
- Have I Been Pwned: cek apakah email pernah bocor
- CISA: Turn On MFA
- NIST SP 800-63B: Digital Identity Guidelines, Authentication
- JDIH Kemkomdigi: Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
Buat Email Sementara
